Kepada Anda yang setia mengunjungi website Motivasi dan Inspirasi,
Sebelum membaca artikel dalam website ini, boleh dong saya memperkenalkan diri. Saya Ainy, memiliki hobi dalam hal membaca, menulis, memotivasi serta menginspirasi orang lain. Kali ini saya sedang bertugas di Aceh dalam rangka membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi akibat bencana tsunami.
Selama ini saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Hal tersebut telah membuat saya banyak belajar dalam bekerja serta berinteraksi dengan mereka. Masing-masing diantara mereka memiliki kelebihan serta cara pandang yang saya kagumi.
Saya melihat bahwa hidup ini ibarat sebuah perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya bergantung kemana arah yang kita tuju. Setiap perjalanan merupakan proses pembelajaran terhadap cara kita dalam mengambil tindakan, cara kita menghadapinya serta cara kita mengenal hikmahnya.
Anda setuju dengan pernyataan saya tersebut bukan? Bahwa hidup ini ibarat sebuah perjalanan yang merupakan proses pembelajaran? Atau Anda ingin mendiskusikannya dalam bentuk contoh yang sederhana serta penjelasannya? Baiklah, mari kita cerna contoh sederhana ini. Ketika Anda akan melakukan suatu perjalanan dengan mengemudikan mobil Anda, tindakan apakah yang pertama kali Anda lakukan? Menentukan tujuan bukan? Setelah Anda menentukan tujuan, baru Anda hidupkan mesin mobil Anda dan memulai sebuah perjalanan. Ketika Anda memulai perjalanan Anda, bagaimana perasaan Anda saat itu? Berharap untuk sampai pada tempat yang ingin Anda tuju bukan?
Pertanyaan berikutnya, seandainya dalam perjalanan tersebut tiba-tiba ban mobil Anda bocor, apa yang Anda lakukan? Tentunya memberhentikan mobil di tempat yang aman, kemudian melakukan tindakan yang diperlukan. Anda mulai mengganti ban mobil. Bagaimana perasaan Anda disaat mengganti ban mobil Anda? Bandingkan perasaan Anda ketika Anda selesai mengganti ban mobil Anda dan siap melanjutkan perjalanan. Perasaan tersebut berbeda bukan?
Dari contoh sederhana diatas, ketika Anda mengemudikan mobil menuju suatu tempat merupakan sebuah perjalanan. Ketika Anda memberhentikan mobil di tempat yang aman, mengganti ban bocor serta melanjutkan perjalanan merupakan tindakan sekaligus pembelajaran. Artinya, dalam proses tersebut Anda berusaha untuk memarkir di tempat yang aman bagi diri Anda sendiri dan orang lain. Anda juga berusaha mengganti ban mobil yang bocor dengan ban cadangan. Setelah Anda selesai mengganti ban mobil, Anda berusaha melanjutkan perjalanan Anda menuju ke tempat tujuan.
Coba Anda perhatikan setiap kata yang dimiringkan. Kata menuju itu identik dengan perjalanan. Kata memberhentikan, mengganti dan melanjutkan perjalanan merupakan usaha Anda dalam melakukan tindakan . Bahwa, tanpa kita sadari, selama kita bernapas, selama itu pula kita melakukan sesuatu. Ketika kita melakukan sesuatu itulah yang disebut dengan pembelajaran. Kemampuan kita untuk mengerti serta mengenal perasaan dalam diri kita dan orang lain itulah yang disebut mengenal hikmahnya.
Nah, harapan saya dalam membuat website ini tidak muluk-muluk kok. Saya ingin diri saya mampu memberi warna dalam kehidupan saya pribadi maupun orang lain. Semoga tulisan maupun diskusi dalam website ini dapat menyejukkan hati Anda, memotivasi dan menginspirasi Anda untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan.
Simpan Energimu Untuk Selalu Tangguh,
Ainy Fauziyah

Salam kenal Bu Ainy
Saya Edy Zaqeus, editor AndaLuarBiasa.com, sebuah web motivasi yg lbh memanjakan tulisan para penulis/motivator/trainer perempuan. Saya baca tulisan Anda dan tertarik untuk mengundang Anda berbagi melalui tulisan di web http://www.andaluarbiasa.com.
Ok, sejumlah rekan penulis perempuan sudah bergabung sebagai kolomnis tetap maupun lepas di sana. Silakan klik, baca visi dan misi, juga tata cara pengiriman naskah. Jika berminat, saya natikan tulisan Anda. Ok, sukses ya Bu.
salam
ez
Hi Mas Edy,
Salam kenal juga dan makasih ya atas kesempatannya. Dengan senang hati saya akan berpartisipasi, apalagi kalau melihat generasi muda yang penuh semangat seperti Anda…
Sukses selalu ya,
Ainy
Salam…,
Saya mau bertanya Bu…, bagaimana bisa menghadapi staff yang tidak tau berterima kasih ? sy menghadapi ini di kantor saya bu. saya sudah menguruskan pendapatan komisi yang selama 35 tahun tidak pernah ada jadi ada, tapi yang saya dapatkan dari staff saya adalah protes dan marah marah. Dia bilang dia sebagai Manager kenapa sama dengan teknisinya. harusnya lebih tinggi. memang orangnya temperamental Bu.
Belum lagi berbagai masalah yang muncul yang saya harus hadapi sendiri sampai sampai tindakan saya menuai ancaman. sayangnya saya harus melakukan tindakan tindakan tersebut karena memang saya di mutasi ke t4 skrg untuk “meluruskan apa yang bengkok” Bu…
Yang saya kecewa dari t4 saya bekerja sekarang seakan akan saya hanya diberi mandat tapi tidak diberi “peluru” untuk melindungi saya.
Pernah pimpinan saya katakan ke saya ” Saya tidak akan memberikan keamanan dan kenyamanan bekerja kepada kamu di tempat ini”… saya langsung marah dengan kata kata pimpinan saya.
Tapi kenyataannya itu terbukti Bu… saya diberikan tugas menyelesaikan semuanya sendiri termasuk membongkar penggelapan uang yang ada di kantor saya. Tetapi setelah itu, saya rasanya dibiarkan sendiri sekarang ini.
Saya adalah seorang Branch Manager di salah satu perusahaan Bu. Tetapi semuanya saya yang urus. Dari masalah rekrut karyawan sampai masalah penjualan pun saya turun tangan. Belum lagi kalau ada masalah yang krusial di kantor yang harusnya tugas seorang HRD malah saya yang hadapi Bu. Jadi singkatnya karyawan semua bisa men “touch” saya langsung. jadi antara saya dengan karyawan lain tidak ada batasan.
Mohon ibu menanggapi masalah saya ya bu. Soalnya saya akhirnya cukup tertekan dengan keadaan ini. Malah sekarang saya udah siap siap untuk cari tempat kerja yang baru. perlu ibu ketahui, saya sudah meminta kepada pimpinan saya pengadaan sales manager dan juga divisi HRD, tetapi Pimpinan tidak menyetujuinya. Demikian Bu. Mohon sekali lagi tanggapan Ibu. Terima kasih.
Salam juga,
Saya bisa merasakan perasaan Anda sekarang. Hanya saja, satu kata yang jujur saya harus sampaikan, Anda adalah seorang lelaki yang bersahaja, berani dan senang membantu orang lain (staff) Anda untuk mendapatkan haknya tentang pendapatan komisi selama 35 tahun. Saya bisa bayangkan, Anda seorang lelaki yang teguh pada pendirian serta menjunjung tinggi kejujuran. Dan, saya sangat menghargai keberanian Anda untuk jujur menceritakan kondisi Anda sekarang.
Tentang pendapat Anda yang merasa bahwa staff Anda tidak tahu terima kasih, saya yakin itu cuman beberapa orang saja yang merasa belum mendapatkan haknya yang sepadan (menurut pendapat mereka). Untuk menghadapi orang yang temperamental, Anda dapat cukup bicara apa adanya tentang usaha-usaha yang telah Anda lakukan serta keputusan management secara apa adanya. Seandainya hasilnya tidak sesuai dengan keinginan mereka, itu bukanlah kesalahan Anda karena Anda sudah melakukan yang terbaik dan janganlah Anda taruh di pundak Anda karena hal itu tidaklah bijak. Coba deh Anda fokus pada beberapa pencapaian yang telah Anda lakukan sehingga Anda dapat menghadapi permasalahan2 yang Anda hadapi dengan hati yang jernih, pikiran cerdas serta tindakan yang bijak.
Saya punya beberapa pertanyaan yang dapat membantu Anda untuk mengambil langkah terbaik dalam menghadapi persoalan ini. Saran saya, coba luangkan waktu menjelang tidur atau disaat kita sendirian dan santai, untuk merenung dan bicara dengan diri kita sendiri :
1. Permasalahan apa sih yang sebenarnya saya hadapi saat ini?
2. Apa langkah terbaik yang harus saya lakukan dalam menghadapinya?
3. Resiko apa yang akan saya hadapi jika saya mengambil langkah tersebut dan siapa saja nanti yang terkena resiko tersebut?
4. Kapan saya dapat mengambil langkah tersebut?
Kalau Anda sudah bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan hati yang jernih serta pikiran yang cerdas dan bijak, Insya Allah Anda sukses menghadapinya dan menemukan solusinya.
Dan…..jangan lupa untuk selalu melihat hal-hal apa saja yang sudah Anda lakukan dan membuat Anda tersenyum, meski pekerjaan itu tidak bernilai dalam bentuk uang (misal Anda sudah mampu membuat Anak-Anak Anda atau orangorang terdekat Anda tersenyum karena Anda meluangkan waktu untuk ngobrol ma mereka, bercerita dengan mereka tentang masa kecil Anda)..Insya Allah hati Anda akan teduh, tentram serta merasakan kenikmatan yang tidak terhingga.
Selamat mencoba ya, dan saya tunggu kabar berikutnya yang tentunya lebih baik
Salam,
Terima kasih Bu atas saran sarannya. Memang benar yang ibu katakan tentang semuanya. Saya melihat mengapa hanya satu / dua orang saja yang begitu, itu dikarenakan begitu banyaknya hasutan dari orang2 luar yang pernah bekerja di t4 kerja saya.
Mungkin langkah yang akan saya ambil adalah membiarkan ini semua berlalu seiring berjalannya waktu, tentunya dengan disertai dengan tindakan tindakan yang perlu diambil jika ada masalah.
Terus terang Bu, seringkali kami menyesali sikap Pimpinan saya yang terlalu menganak emaskan staff saya yang protes itu. Diberikan fasilitas yang harusnya tidak diberikan. Nah akibatnya, pimpinan saya sendiri yang suruh saya pecat aja staff ini kalo bermasalah. Kami tau bahwa itu bukan hak kami menentukan fasilitas apa yang dia akan peroleh. Tetapi akibat dari diberikannya itu semua, dianya jadi “Ngelunjak”. Tidak ada kecemburuan didalam kata kata saya ini Bu. Saya hanya ingin Ibu menanggapi bagaimana cara saya bersikap seharusnya menghadapi ini.
Apakah saya perlu “Berbicara lagi kepada Pimpinan saya?” karena ini sudah pernah saya peringatkan tentang orang ini jauh hari sebelum saya mutasi ke tempat ini Bu. Tetapi saya tidak mau didengarkan.
Tapi lucunya, saya yang diharuskan menangani ini. Akibatnya ? Saya jadi sumber fitnah dan ancaman. Mohon tanggapan ibu sekali lagi bagaimana saya menghadapi Dilema ini Bu.
O ya, satu lagi bu, Bagaimana cara menghadapi pimpinan yang selalu mengatakan ” SAYA TIDAK MAU TAU ” dan ” ITU KERJAAN KAMU, SAYA TIDAK MAU MEMUTUSKAN” jika kita meeting membahas kinerja perusahaan dan perlu keputusan dari Pimpinan kita ?. Mohon Bantuan Ibu.
Sekali lagi Terima kasih.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan Ibu.
Ass Mas Anthon,
Saya bisa merasakan dilema yang Mas Anthon rasakan saat ini, dimana disatu sisi Anda dituntut atasan untuk bertindak adil sementara atasan Anda kurang bijak dalam menyikapi staff Anda dengan memberi fasilitas melebihi yang seharusnya.
Saran saya, Anda bicara baik-baik pada atasan Anda, mengenai peraturan yang harus ditaati bersama guna menghindari kecemburuan antara staff serta sikap staff yang merasa semena-mena karena mendapat perlakuan khusus dibanding lainnya.
Tolong Anda tunjukkan akibat dari sikap atasan Anda terhadap staff Anda serta resiko yang Anda hadapi jika Anda yang harus memikulnya. Tentang fasilitas yang berlebih, Anda harus berani mengatakan bahwa atasan Andalah yang harus menariknya karena beliau yang melakukannya. Kemudian, jika beliau mengatakan SAYA TIDAK MAU TAHU dan ITU KERJAAN KAMU, SAYA TIDAK MEMUTUSKAN, disinilah Anda dituntut untuk bersikap tegas baik itu terhadap atasan maupun bawahan. Saya rasa, asal Anda menyampaikannya dengan baik2 tanpa emosi, Insya Allah semuanya tertangani. Cobalah berani bersikap yang tegas dan benar, dan jangan lupa memiliki keterangan yang jelas dan benar untuk disampaikan kepada yang bersangkutan tentang mengapa Anda mengambil keputusan tersebut. Percaya deh, sekali kita berani bersikap, orang akan segan untuk seenaknya kepada kita, asal kita bersikap secara santun dalam menyampaikan, tanpa disertai emosi. Ok, selamat mencoba ya, saya yakin Anda bisa mengambil sikap
Salam,
Ainy
Salam,
Terima kasih atas tanggapan Ibu yang begitu baik dan mendalam bagi persoalan saya. Saya senang dan akhirnya memang harus mengambil satu sikap dengan tegas dan tentu didukung kebenaran dan kenyataan yang ada. Tentang Atasan saya, saya juga sesuai saran Ibu akan berbicara dengan beliau dan berusaha membuka pikirannya.
Sekali lagi terima kasih atas saran dan pendapat selama ini. Semoga semuanya menjadi Baik pada akhirnya.
Alhamdulillah,
Saya yakin Anda mampu melakukan langkah Anda. Percayalah, Allah selalu memberi jalan bagi umat-Nya yang selalu berusaha untuk benar dan berani untuk benar.
Salam,
Ainy
Bu ainy. salam kenal dong kebetulan saya juga lama dipemberdayaan berkaitan dengan program nasioanal untuk masyarakat, ibu juga sama menjadi fasilitator di aceh dan tentu cukup punya pengalaman menarik untuk bisa share dengan kami, harapanya pengalaman itu untuk mencari formula yang pas untuk membina kelangsungan kemandirian masyarakat? kira-kira itu bu ainy, oke….. mangga diantosnya
Salam Jumpa Ibu,
Semoga Ibu selalu dalam lindunganNYA.
Ibu saya mau sharing lagi nih. Begini, dulu sewaktu pertama kali saya diberikan kepercayaan memegang tanggung jawab di perusahaan tempat saya bekerja, saya sudah mendapatkan banyak tentangan.
Salah satunya dari salah seorang pimpinan perusahaan ( A ) yang dulu sangat akrab dengan mantan boss saya yang sudah resign akibat mau diperiksa oleh pimpinan saya. Sebenarnya si A dan mantan boss saya itu memang terjalin hubungan bisnis yang boleh dikatakan erat sekali bu. Tetapi karena perusahaannya si A ini tidak mau memberikan apa yang seharusnya mereka berikan ke perusahaan kami ( refund ) selama saya melanjutkan kepemimpinan di perusahaan ini, maka saya mengambil tindakan untuk tidak lagi bekerja sama dengan si A.
Saya sempat ngomong dengan salah seorang suami dari anak buah si A mengatakan bahwa perusahaan si A ngga bisa memberikan refund seperti yang kami inginkan, oleh sebab itu kami tidak bisa memakai A untuk sementara waktu.
Nah sialnya bagi saya, ada orang yang memanas manasi situasi ini sehingga telinga si A jadi panas dan tiba tiba telpon saya marah marah dan ngancam. Saya dibilangin “jangan membawa bawa nama perusahaan ini dan jangan menjelek jelekkan” sambil banting telepon. Memang si A salah satu keluarga orang yang berpengaruh di daerah ini Bu.
Saya punya saksi yang bersama saya sewaktu saya mengungkapkan kata kata soal tadi diatas Bu. Dan sama sekali tidak ada kata kata menjelek jelekkan. Toh itu sesuai kenyataan.
Memang tipikal orang di tempat saya temperamental tinggi Bu.
Nah, sebenarnya masalah ini sudah lama selesai. Tetapi semenjak itu, saya seakan akan jadi Paranoid dan kalau selalu ingat masalah itu saya jadi ada kekuatiran.
Pertanyaan saya, Bagaimana saya bisa tidak memikirkan hal itu lagi bu ?
persoalannya sekarang, tempat perusahaan saya bekerja ( atas perintah dari Pusat, yang saya sama sekali tidak bisa menolaknya ) sekali waktu akan memakai jasa dia untuk membuat acara atau yang lainnya dikarenakan perusahaan itu merupakan perusahaan yang cukup ternama di tempat saya.
Saya terus terang rasanya ngga bisa terima saya digituin sama Dia Bu. Mau bicara ke si A, malah memperbesar kepala dia juga. apa yang harus dilakukan ibu ? mohon arahannya.
o ya, sewaktu dia membentak saya, saya minta tolong ke ipar saya karena kebetulan ipar saya kenal baik sama dia. Dia bilang ke ipar saya kalau saya ceritain yang jelek jelek ke orang tentang dia. Akhirnya ipar saya menjelaskan kalau ” saya dipanggil ke perusahaan saya untuk meluruskan apa yang “bengkok” termasuk mantan boss saya. jadi banyak orang yang menjelek jelekkan saya dan memanas manasi si A “. si A akhirnya “ngerti” karena dia ngga enak dengan ipar saya yang tergolong orang penting juga bu. Tetapi sewaktu ketemu saya di rumah makan, dia seakan akan pura pura ngga lihat.
mohon jawaban dari ibu ya. terima kasih atas waktunya.
Dear Mas Anton,
Terima kasih ya atas doanya yang tulus, demikian juga sebaliknya, semoga Allah meningkatkan ketegaran Mas Anton untuk selalu bertindak tegas.\ Tentang sikap Anda yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerja dengan perusahaan A, itu adalah keputusan yang professional dan Anda melakukannya dengan benar.
Hanya saja, satu hal yang perlu Anda catat :
1. Jika Anda melakukan memutuskan hubungan kerja baik dengan mitra perusahaan, sebaiknya tidak perlu diberitahukan pada orang yang tidak berkepentingan. Hal itu untuk menghindari ‘gossip’ serta bumbu2 yang tidak kita inginkan.
2. Saat memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan A, saya berasumsi Anda telah berkonsultasi dengan atasan Anda maupun pihak terkait di perusahaan Anda bukan? Kalaupun ada yang memutarbalikkan fakta dan menyampaikan berita sebaliknya ke perusahaan A, sebaiknya Anda tidak perlu merisaukannya. Kenapa? Karena Anda memutuskan hubungan kerja secara professional serta tidak ada kepentingan maupun dendam pribadi.
3. Jika pihak kantor Anda meminta Anda menghubungi perusahaan A, secara professional Anda memang harus melakukannya, bukan? Sebaiknya Anda tidak perlu memikirkan apakah perusahaan A besar kepala atau tidak, karena belum tentu perusahaan A berpikiran negatif. Kalaupun suatu saat Anda bertemu beliau, berbesar hatilah untuk menyapanya dan buktikan bahwa Anda memang tidak memiliki masalah pribadi dengan beliau.
Tentang ketakutan Anda, langkah yang perlu Anda lakukan :
1. Terimalah rasa takut itu sambil mengatakan pada diri Anda, saya menerima rasa takut ini.
2. Dan saya berani menghadapinya dengan cara yang mulia.
Ulangilah berkali-kali kata2 tsb ketika perasaan itu muncul dan bayangkan seperti apa yang Anda ucapkan.
Mas Anton, jika Anda berada di Jakarta, hadir ya ke acara saya Ngopi Bareng Ainy di Cafe Au Lait Jl. Cikini Raya 17 depan Menteng Huis samping Bakoel Koffie hari Jumat ini 9 oktober’09 jam 18.30-20.30 dalam rangka memotivasi diri dengan tema RECHARGE YOUR WILLINGNESS. Ditunggu ya.
Ainy
AINY COACHING
http://www.ainyfauziyah.com
Salam Ibu,
Terima kasih atas saran saran dan motivasinya. Memang benar apa yang Ibu katakan tentang Point 1 diatas. Sebenarnya dengan adanya kejadian ini, saya jadi sadar kalau memang kita tidak seharusnya berbicara apapun soal keputusan kita.demi menghindari hal hal yang kita tidak inginkan.
Terima kasih lagi atas saran Ibu. Saya mohon doanya agar diberikan kekuatan dan ketabahan juga ya Bu.
Sayangnya saya ngga bisa hadir dalam acara Ibu dan tetap terima kasih atas undangannya. Saya berdomisili di Makassar Bu. Saya akan ke Jakarta tanggal 12 Oktober ini. Ibu domisilinya dimana ? siapa tau saya bisa berkunjung ke tempat Ibu. Atau Ibu punya email atau Facebook ? mohon dikasih tau alamatnya ya….
Demikian Ibu, Terima kasih ya… sukses selalu buat Ibu
Dear Mas Anthon,
Wah senangnya saya mempunyai teman lagi yang tinggal di Makassar. Mas, berapa lama di Jakarta? Email saya ya di ainy_fauziyah.com ntar kita cari waktu yang pas. Kalau lama di Jakarta, tanggal 23 Oktober 2009 ini saya undang lagi ya di acara Ngopi Bareng Ainy. Alhamdulillah, banyak yang berminat, jadi akan diadakan secara reguler. Awal November ini Insya Allah saya off dulu di wordpress, menikmati ibadah haji selama 1 bulan, setelah itu baru aktif lagi. Facebook saya Ainy Fauziyah.
Mas, saya yakin dengan kekuatan dan ketabahanmu, bahkan dengan cara berpikir Anda yang bijak. Ini hanyalah sebuah proses menuju yang terbaik…ok..
Makin sukses ya,
Ainy Fauziyah
http://www.ainyfauziyah.com
Salam,
Saya sdh di Jakarta tgl 12 – 15 November Bu. Padahal saya senang banget utk bisa bertemu Ibu. Mau banyak sharing Bu. Terima kasih juga atas undangannya. Siapa tahu Ibu ke mks bisa hub saya Bu. FB sy sesuai alamat email saya Bu. Semoga ibadah hajinya lancar dan membawa pulang berkah yang melimpah ya Bu. Jangan lupa oleh oleh. Ha3x. Okay dan terima kasih ya bu.